ujuh Keajaiban dari “The New Seven Wonders” (Bagian Pertama)


13209192081862538957
website resmi N7W (www.n7w.com), tidak ada link satupun yang mengarahpengakses untuk mengetahui lebih jauh profil N7W
Tujuh Keajaiban dari “The New Seven Wonders”
Sesungguhnya sebelum “Yayasan” The New Seven Wonders (N7W) mengumumkan hasil keputusan mereka apakah komodo di Indonesia itu termasuk dalam tujuh keajaiban dunia, ataukah tidak, pada 11 November 2011 nanti, sudah terjadi “keajaiban-keajaiban” di dalam proses menuju keputusan itu.
Ada “Tujuh Keajaiban” di seputar profil dan kegiatan The New Seven Wonders tersebut, yakni:
KEAJAIBAN PERTAMA:
Bagaimana bisa sebuah lembaga internasional sebesar N7W yang mengelola dana dari seluruh negara peserta. sampai ratusan juta dollar AS (triliunan rupiah), ternyata hanya bisa megah di dunia maya, sedangkan di dunia nyata mereka tidak mempunyai kantor yang layak. Bahkan terkesan seadanya. Hasil penelusuran Duta Besar Indonesia untuk Swiss, Djoko Susilo, menemukan bahwa alamat yang dicantumkan N7W sebagai alamat kantornya, ternyata berada di sebuah museum kecil yang sepi, museum Le Corbusier di Bern, milik kakak pendiri N7W, Bernard Weber. Tapi bukan markas besar N7W, sebagaimana dinyatakan oleh Ketua Pendukung Pemenangan Komodo (P2K), Emmi Hafild.
Emmi pernah mengatakan bahwa kantor N7W di Bern, Swiss itu adalah markas N7W yang berisi segala data dan kegiatan tentang kontes tujuh keajaiban dunia terbaru yang diselenggarakan lembaga terebut.
Tetapi hasil penelusuran Djoko menemukan fakta bahwa museum tersebut ternyata hanya berisi arsitektur. “Tidak ada isi tentang komodo atau finalis N7W lainnya,” katanya seperti yang dikutip Jawa Pos.
Djoko juga mengorek informasi dari para tetangga museum. Jawabannya cukup mencengangkan. Sebab, para tetangga juga tidak tahu kalau museum itu dijadikan kantor N7W. Bahkan, hiruk pikuk seperti orang-orang dari berbagai negara yang ingin tahu lebih banyak tentang sayembara itu juga tidak pernah ada.
Mana yang Anda ketahui lebih dulu: Komodo, atau yayasan yang bernama The New Seven Wonders?
Saya yakin sebagian besar dari kita – kalau bukan semua – lebih dulu mengetahui komodo. N7W baru saja kita dengar setelah ribut-ribut begini.
Bahkan di Swiss, negara asal N7W ini pun ternyata tak dikenal, sebagaimana diutarakan Djoko Susilo. Selain hasil penelusurannya bahwa kantor N7W, ternyata ada di sebuah museum kecil yang sepi, Djoko juga bertandang ke beberapa kantor koran dan televisi besar di Swiss, menanyakan tentang eksistensi N7W. Semuanya menjawab tidak tahu.
Mungkin di antara Anda yang berpikir bahwa cukup familiar dengan nama “The Seven Wonders”, atau “Tujuh Keajaiban Dunia”. Tapi hendaklah Anda jangan rancu dengan nama dari yayasan, atau lebih tepat disebut perusahaan bisnis “The New Seven Wonders” ini.
Perusahaan bisnis ini sebetulnya hanya memnafaatkan ketenaran sebutan “The Seven Wonders” itu. Karena jauh sebelum perusahaan ini ada, istilah “The Seven Wonders” ini sudah ada sejak berabad-abad lalu. Bernard Weber sang pendiri N7W dengan pintar telah memanfaatkan ketenaran istilah tersebut untuk nama perusahaannya.
Istilah “Tujuh Keajaiban Dunia” berasal dari Antipater Sidon, yang membuat istilah tersebut dalam sebuah puisi (sekitar 140 SM), yang mengaju pada Tujuh Keajaiban Dunia Kuno.
Menurut Wikipedia Indonesia, ada 6 set (macam/versi) tentang Tujuh Keajaiban Dunia, yakni:
  1. Keajaiban Dunia Kuno
  2. Keajaiban Dunia Pertengahan
  3. Keajaiban Dunia Alami
  4. Keajaiban Dunia Bawah Air
  5. Keajaiban Dunia Modern
  6. 7 Keajaiban Dunia Baru
*
Kita tentu tidak menuntut adanya sebuah kantor yang besar dan megah, tetapi apakah dapat dipercaya sebuah lembaga, atau lebih tepatnya disebut sebuah perusahaan bisnis sebesar N7W mempunyai kantor seperti itu?
Duta Komodo Indonesia, Jusuf Kalla (JK), membela N7W, dengan mengatakan di era sekararang untuk melakukan kegiatan dan usaha seperti N7W tidaklah memerlukan sebuah kantor di dunia nyata yang harus representatif. Sudah cukup jika dapat dikelola dengan tata cara cyber techonolgy.
Apakah ini berarti jika N7W sama sekali tidak punya kantor di dunia nyata juga bukan masalah bagi JK, dan kita?
Sehebat apapun penggunaan cyber techonolgy dalam suatu kegiatan dan usaha yang melibatkan begitu banyak orang dan uang, apalagi sampai melibatkan puluhan negara dan pemerintahan di dunia, dengan ratusan juta manusia, kredebilitas yang tinggi, identitas yang jelas merupakan sesuatu yang mutlak. Kalau tidak demikian, maka semua orang bisa dengan mudah melakukan suatu usaha (bisnis) di dunia maya dengan tidak ada kewajiban baginya untuk meyakinkan konsumennya tentang jati diri dan kredebilitasnya. Kalau sampai ini dibenarkan/ditoleransikan, maka penipuan di dunia maya akan bisa semakin marak dan leluasa.
Kalau kita mengakses website N7W, http://www.n7w.com/ , ternyata juga tidak terdapat satu pun link yang mengarahkan kita untuk mendapat informasi tentang lebih jauh tentang N7W, seperti profilnya, alamat kantornya, misinya, maksud dan tujuan pendirian NW7, dan lain-lain dari yayasan yang menamakan dirinya The New Seven Wonders ini. Padahal hal seperti ini sudah merupakan suatu kelaziman, bahkan sudah menjadi suatu “keharusan” tak tertulis di dunia maya bagi siapapun yang berniat baik.
Untuk meyakinkan publik tentang kredibilitas N7W, JK mengatakan bahwa bukti kredibilitas N7W tersebut antara lain bahwa pada 7-7-2007, — rupanya N7W ini selalu mencari tanggal penyelenggara acaranya bertepatan dengan tanggal yang unik, di tahun ini tanggalnya 11-11-2011 – N7W telah menyelenggarakan acara pengumuman pemenang di Lisbon, Portugis, dengan sangat mewah. Bintang tamu kelas dunia, Jennifer Lopez (J-Lo), dan Christiano Ronaldo pun, hadir. Ketika itu pengumuman pemenangnya untuk kategori “keajaiban dunia buatan manusia”.
Argumen yang sama juga dikemukakan Ketua P2K Emmi Hafild, seperti dikutip majalah TEMPO. “Pada acara N7W 2007 acaranya dihadiri juga oleh Jennifer Lopes, jadi kurang kredibel apa!?” Serunya.
Pertanyaannya, apakah dengan kehadiran J-Lo dan Christiano Ronaldo itu bisa menjadi ukuran bahwa N7W itu benar-benar sebuah lembaga yang kredibel, dalam arti dia bukan sebuah perusahaan yang benar-benar didirikan hanya untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan kekayaan alam yang dimiliki oleh sebuah negara?
Acara yang diselenggarakan dengan sangat mewah itu, seperti yang dikatakan JK, justru memberi indikasi bahwa N7W ini bukan sebuah lembaga yang murni yayasan yang hendak membantu mempromosikan obyek wisata sebuah negara setelah diberi predikat sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Kemewahan itu sengaja dibuat untuk membangun citranya sebagai suatu perusahaan bisnis besar yang layak dipercaya. Hakikatnya mereka tidak perduli dengan kelangsungan hidup dan masa depan suatu obyek alam yang diunggulkan oleh suatu negara.
Mereka murni adalah sebuah perusahaan yang hanya mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan memanfaatkan kekayaan (keunikan) alam suatu negara dengan memainkan emosi nasionalisme suatu negara. Urusan selanjutnya mereka tidak mau tahu.
Mereka tidak mau terus terang dan menjamin bahwa setelah pengumuman pemenang diumumkan pada 11 November 2011, selanjutnya N7W akan melanjutkan dengan membantu melakukan promosi secara besar-besaran untuk tiap pemenangnya.
Secara menggambang pihak N7W hanya mengatakan bahwa setelah pengumuman pemenang itu dilaksanakan, setiap negara mempunyai kesempatan yang luas untuk mempromosikan obyek wisatanya masing-masing sebagai salah satu keajaiban dunia versi N7W. Seperti yang dapat disimpulkan dari hasil wawancara Jawa Pos dengan Head of Communication New 7 Wonders Eamonn Fitzgerald, yang juga pada kesempatan itu mengutarakan bahwa N7W akan menuntut Djoko Susilo karena telah melakukan pencemaran nama baik N7W (Jawa Pos, 10 November 2011).
JK dan Emmi menyebutkan even N7W pada 7 Juli 2007 itu sebagai salah satu bukti kredibilitas N7W, padahal justru pada momen inilah kredibilitas N7W merosot tajam ketika UNESCO dari PBB, mencabut dukungannya kepada N7W. Ini merupakan keajaiban berikutnya:
KEAJAIBAN KEDUA:
Rhenald Kasali dalam tulisannya di Jawa Pos, Senin, 7 November 2011 (Cari Uang Cara Komodo) mencatat bahwa pada awalnya N7W menyatakan bahwa mereka tidak dibiayai pembayar pajak. Dananya didapat dari donasi, sponsor perusahaan, dan stasiun televisi yang mendapat hak siaran.
Oleh karena itu, pada awal berdirinya, tahun 2001 (menurut www.pilihkomodo.com, tahun 2000), mereka didukung UNESCO. Tetapi pada 2007, tak lama setelah lembaga ini melakukan seremoni pengukuhan tujuh bangunan kuno warisan peradaban masa lalu di Lisabon, UNESCO mencabut dukungannya itu.
Penyebab utamanya adalah N7W menyelewengkan obyektifitasnya dengan memeras negara-negara anggota PBB untuk mencari uang dengan metode popular vote. Mereka bahkan mengabaikan validitas. Bagaimana mungkin 7 juta penduduk Jordania memberikan suara 14 juta untuk bangunan bersejarahnya di Lembah Petra?
N7W adalah poll terbesar di dunia maya dengan 100 juta votes, tetapi sekaligus juga paling tidak kredibel karena membiarkan seseorang memilih berkali-kali tanpa batas maksimum untuk obyek pilihan yang sama.
Pada momen 2007 itu pulalah, karena mungkin gagal memeras Mesir, N7W kemudian mencoret nama Piramid Giza di Mesir sebagai salah satu finalis keajaiban dunia buatan manusia. Tetapi karena mendapat protes keras dari pemerintah dan rakyat Mesir, mereka memasukkan kembali Piramid Giza sebagai The Honorary of N7W Candidates.
Apa yang ditulis Rhenald Kasali tersebut di atas, kini sedang terjadi di Indonesia. Ajaib tapi nyata, masih saja banyak orang kita, termasuk JK, tetap saja tidak ambil pusing.
Apakah mereka tidak melihat “keajaiban demi keajaiban” yang sedang terjadi di depan mata itu? Dan keajaiban-keajaiban itu adalah keajaiban yang konyol.
Bagaimana mungkin Piramid Giza, sebuah bangunan purba berusia 5000 tahun lalu itu bisa dicoret begitu saja oleh N7W? Padahal sejak 300 tahun sebelum Masehi obyek ini sudah dicatat oleh bapak sejarah Herodatus sebagai salah satu keajaiban dunia. UNESCO pun sejak awal berdirinya sudah memasukkan Piramid Giza sebagai salah satu keajaiaban dunia, sampai dengan sekarang.
Pada waktu itu N7W juga mencoret Candi Borobudur dari daftar finalis tujuh kejaiban dunia buatan manusia. Tetapi tidak ada satu orang Indonesia pun yang memprotesnya.
Padahal apakah benar-benar keajaiban yang dimiliki Borobudur kalah dengan, misalnya dengan salah satu pemenang keajaiban dunia versi N7W itu, yakni Patung Yesus Kristus setinggi 38 meter di puncak Gunung Corcovado, Rio de Janeiro, Brasil, yang baru dibangun pada 1927 (abad moderen)?
Dinilai dari aspek kerumitan, arsitektur, besarnya bangunan dikaitkan dengan masa pembangunanannya, Candi Borobudur yang dibangun sekitar 1200-an tahun yang lalu, atau sekitar tahun 770 Masehi di era wangsa Syailendra itu, lebih pantas mendapat predikat keajaiaban dunia ketimbang Patung yesus Kristus di Brasil itu.
Kenapa bisa terjadi seperti itu? Apa kriteria N7W menentukan suatu obyek lebih pantas diberi predikat sebagai keajaiban dunia daripada obyek yang lainnya?
Rhenald Kasali tanpa ragu mengatakan bahwa faktor besaran uanglah yang sebagai faktor penentu suatu obyek dinyatakan sebagai pememangnya oleh N7W. Seperti yang juga terjadi sekarang di tahun 2011 ini.
Faktor ilmiah, obyektifitas, dan validitas sama sekali tidak dipakai oleh N7W dalam menentukan pemenangnya. Setoran uang kalah besar daripada peserta lain, otomatis obyek unggulan negara tersebut akan dinyatakan kalah. Tidak masuk dalam daftar tujuh keajaiban dunia.
Dulu, waktu masih di SD, pengetahuan saya tentang kenapa sebuah obyek alam/buatan manusia bisa dikategorikan sebagai keajaiban dunia adalah antara lain karena misalnya, kehebatan manusia-manusia di zaman purba, yang ke zamannya belum dikenal teknologi moderen sama sekali, bisa membangun bangunan-bangunan maha spektakuler seperti Tembok Besar di Tiongkok, dan Piramid Giza di Mesir.
Atau keunikan luar biasa suatu obyek alam dengan tumbuhan dan atau hewannya yang terdapat di lingkungannya, yang tidak ada duanya di dunia ini, membuatnya dikategorikan sebagai salah satu keajaiban dunia. Yang darinya dimanfaatkan oleh setiap negara untuk dijadikan obyek wisata terbaiknya guna menarik devisa sebesar-besarnya.
Tetapi ternyata di tahun 2011 ini suatu obyek alam dinyatakan ajaib atau tidak, cukup ditentukan dengan jumlah SMS yang masuk. Ajaibnya lagi, sistem dengan memanfaatkan teknologi SMS ini pun mempunyai keajaiban tersendiri, yang merupakan keajaiban yang ketiga dalam tulisan ini.

BERSAMBUNG....

Facebook Twitter